Tentang klasifikasi “RASA” (cinta, kasih & sayang dalam duniaku)
Pernah pada satu ketika dimana aku masih jauh dari kata dewasa, membagi 3 bagian yang tergolong kelompok “RASA”. Mencoba mendefinisikan tentang cinta, kasih dan sayang. Mencari dari berbagai sumber informasi dan berharap dapat menemukan yang belum pernah diungkapkan. Oleh mereka yang masih terlalu muda bicara tentang cinta, oleh mereka yang selalu mencoba berkata bahwa “AKU TLAH DEWASA!”. Sayang. Belum sampai aku temukan, semuanya terhenti. Entah karena kesibukan untuk mempersiapkan ujian akhir atau situasi yang membuat aku mulai tak peduli akan semua itu, aku lupa.
Kala beranjak pada status yang lebih tinggi. Saat gelar mahasiswa mulai menempel pada diri ini, tak pernah lagi aku ingat ada hutang yang masih harus ku genapkan. Tentang “KLASIFIKASI RASA”. Kepadatan tugas –tugas perkuliahan semakin memaksa aku untuk mengeluarkan semua memori yang tak lagi terpakai, untuk diganti dengan pola pikir baru. Pola pikir kemahasiswaan yang lebih mandiri dan berintelektual. Dibersihkan, diformat dan tak ada lagi catatan yang tersisa kecuali materi perkuliahan ditambah porsi jumbo pemahaman tentang kehidupan oleh bapak dosen.
Tuntutan untuk beradaptasi dengan otak kanan dalam jurusan desain komunikasi visual yang aku pilih, merupakan pijakan awal untuk aku dapat melihat lebih peka dan mengenal lebih jauh tentang “Rasa”. Tentang sebuah gambaran keseharian yang mungkin terlalu sulit diterjemahkan lewat kata bagi sebagian orang. Nah, anggaplah aku mulai paham akan pengelompokan rasa. Setidaknya untuk saat ini aku mengerti akan luapan emosi dari dalam diri akibat adanya interaksi secara sosial baik dengan individu maupun faktor-faktor lain diluar dirinya itu.
“bukan cinta namanya jika sampai ada yang hati yang terus terluka dan ada gerak yang terpenjara”
Berbicara tentang “cinta”, cinta itu semestinya tidak pernah membuat luka karena hakekat cinta adalah merdeka (freedom). lahir dari sebuah kebebasan, tanpa ada dominasi atau paksaan. Ingat!! bukan cinta namanya jika sampai ada yang hati yang terus terluka dan ada gerak yang terpenjara.
Sedangkan “kasih” identik dengan memberi (give). Memberi yang terbaik dengan ketulusan hati. Memberi tanpa ada lagi sebuah harapan untuk mendapati. Untuk melakukannya tidak semudah menuliskan kalimatnya memang, dibutuhkan kebesaran hati, dada yang lapang dan latihan setiap waktu
. Tapi percayalah, setelah mampu melakukannya maka akan selalu ada bonus berlipat dalam setiap kebahagiaanmu. Untuk klasifikasi rasa yang terakhir yaitu “sayang”, sayang itu erat kaitannya dengan menjaga (care). Menjaga dengan sebuah kesadaran bahwa setiap individu ataupun yang berada diluar diri kita memiliki keunikan sendiri yang harus dihargai segala potensi, hasrat dan ambisinya.
Ini semua merupakan rangkuman dari banyaknya obrolan cerita seputar lingkup rasa yang pernah kudengar, dari fenomena remaja yang kulihat saat ini, dari status facebook yang semakin tragis bicara tentang cinta setiap harinya, dari beberapa buku yang kubaca dan refleksi cerita di masa lalu yang membuatku memiliki fundamen tersendiri soal rasa. Akhirnya hutangku lunas, janji untuk dapat berbagi cerita soal “RASA” sudah kugenapkan.
Semoga bermanfaat dan sampai jumpa diperhentian selanjutnya…