1_798119221l.jpg ongchoteanthis angulata

T

iap kali virus menyerang komputer, Richard Prinawan S sangat reaktif. Langsung beraksi membereskan. Paling peka dibanding crew Tabloid TRANSAKSI lainnya. Manakala wartawan, fotografer atau siapapun yang hendak mencolok-kan flash disk di komputernya, tak segan mendeteksi lebih dulu ke-mungkinan ada tidaknya virus menyusup. Richard pernah berobsesi menciptakan virus ketika SMA. Lahap mem-baca buku panduan cara membuat virus. Berkali-kali eksperimen pun dicoba. Namun hasilnya, tak sesuai asa. Ia hanya bisa menciptakan virus dengan kualitas biasa dan sederhana. Tak menyerah, beberapa percobaan dilakukan lagi. Hasilnya tetap sa-ma, biasa saja. Bosan, barulah berhenti. Obsesi sebagai pembuat virus (VM) ditangguhkan. Gagal maning, gagal maning! Gagal dalam menuai hasrat sebagai virus maker. Kini, obsesinya berbanding terbalik 180 derajat. Hasrat awal yang ingin jadi virus maker berubah drastis menjadi virus slayer, penakluk virus.Ia memang akrab disapa virus slayer oleh teman-teman di kampusnya. Operator komputer kampus pun sampai kalah update antivirus sama pria kelahiran 11 September 1988 ini. Mau anti virus apa, ia punya. Tinggal SMS saja. Sebanyak 300-500 virus bertambah setiap hari dengan berbagai varian! ”Dibuat oleh programmer tak bertanggung jawab,” kata Richard yang sekarang, rupanya sudah merasa bertanggung jawab hahaha….Sudah ratusan virus ia kalahkan. Beberapa diantaranya virus Kspoold, W32/Riani Jangkaru, My Heart, Brontok, Flu Burung, Trojan dan Pendekar Blank. Sebagai Disainer Grafis TRANSAKSI, setiap saat memang selalu berhubungan dengan komputer. Kerja hingga larut malam, tidak sempat pulang sudah jadi konsekuensi logis yang secara rela atau terpaksa mesti ia lakoni. Di tabloid ini, Richard duet bareng Mohamad Ramdhan. Bertanggung jawab memanjakan pembaca dengan tugas menam-pilkan karakter desain TRANSAKSI yang simple, nyaman di mata saat dibaca, dan elegan.Ia kerja mati-matian demi mencapai hasil maksimal. Tidak jadi soal, meski harus lembur dua hari dua malam!Hal itu sudah ia buktikan saat pertama kali gabung di TRANSAKSI. Oleh Pemred (Pemimpin Redaksi), ia diuji membuat konsep design sampai jam satu pagi! Bayangkan, pertama kali melamar, langsung diuji sampai tengah malam. Besoknya stress! File hasil lembur semalaman, sama sekali tak bisa dibuka. Apa boleh buat, harus mulai dari awal lagi walaupun ngantuk dan badan terasa pegal linu. Sekedar catatan saja, saat melamar ia hanya bawa sample design, tugas buat kuliah yang hendak diserahkan ke dosen!Bagai uji nyali, berkali-kali ia mesti menghadap pemred di Lantai I Nuansa Building untuk minta persetujuan dengan hati berdebar-debar.Ketika Pemred mengiyakan, Richard hanya tersenyum, tak banyak bicara. Sesampainya di ruang desain grafis Lantai II, barulah ia menari (meniru gaya) cumi-cumi (ongchoteanthis angulata) sebagai ekspresi kegirangannya. “Horeee, sudah di-acc,” ujarnya.Kejadian ini (menari gaya cumi-cumi) sekarang sering berulang. Ade Urip Santoso dan Ramdhan yang pendiam, juga ikutan bergoyang. Jadi semacam ritual, ketika desain atau layout telah disetujui oleh Pemred. Sampai sedemikian jauh, sayangnya Pemred belum pernah menyaksikan adegan yang menghebohkan ini. Mereka selalu bersembunyi saat menari. Langsung berhenti ketika Pemred akan masuk ke ruangan desain grafis.Malu? Entahlah. Isin lantaran koreografi tariannya asal-asalan? Atau takut karena nanti dikira cumi-cumi? Soalnya kata teman-teman sekantor, kalau lagi nari persis cumi-cumi hahaha…. Sumber : Tabloid TRANSAKSI #11

Tulis sebuah Komentar

*
*