Melihat satu fenomena umum yang sering terjadi di kota kecil dan tidak menutup kemungkinan terjadi di kota-kota besar, tidak sedikit orang pintar saat ini yang akhirnya tunduk layaknya anjing pada majikannya. Rela melepaskan idealisme yang tertanam dalam waktu yang relative tidak sebentar. Ibarat seekor anjing yang rela menjilat sepatu tuannya yang telah menginjak kotoran.
Sudah tidak tabu lagi hal seperti itu dilakukan. “LUMRAH!!! “ katanya asalkan dapur bisa ngebul, kenapa nggak?! Lah wong kita hidup kan butuh makan!. Mengasumsikan seorang majikan yang dapat memberikan segala nikmat duniawi, beberapa orang rela melucuti pakaiannya sembari menjilat air liurnya yang telah ia buang sendiri.
Kalau ada yang harus saya takuti selain diri-Nya, tanpa ragu saya akan menjawab saya takut kehilangan harga diri, kehilangan ‘pakaian saya’ pakaian yang telah saya rajut sendiri untuk menutupi segala aurat tubuh pada lonjoran daging ini dan telah melindunginya hingga sekarang.
Sakit, perih, hingga berdarah-darah untuk memperjuangkan idealisme. Ya itulah yang dirasakan oleh sebagian orang lagi yang terus memperjuangkan Idealismenya. Tidak semudah apa yang dibayangkan. Bukan sekedar NGOMONG DOANG!!! BERKOAR-KOAR DI JALAN-JALAN PANTURA SAMBIL MEMBENTANGKAN SPANDUK BELAGA SOK MBELA RAKYAT KECIL!! IT’S BULLSHIT THINGS
Berupaya mewujudkan sesuatu dengan mengoptimalisasikan segala potensi yang ada dalam diri tanpa menunggu bantuan dari orang-orang yang pada akhirnya membunuh idealisme kita secara perlahan demi kepentingan mereka. Itulah sebuah kalimat yang mestinya selalu hadir dalam setiap benak individu yang tidak mau harga dirinya terinjak-injak oleh mereka yang cuma punya modal DUIT ditambah OTAK LICIK!!



.
